Sabtu, 15 November 2014

Olga Benario Perempuan Revolusioneer

Di tahun 1942, seorang perempuan muda
berusia 34 tahun berakhir hidupnya di ‘kamar
gas’ Hitler. Melalui surat terakhirnya ia
menulis: “Aku berjuang untuk keadilan,
kebaikan, dan untuk dunia yang lebih baik.”
Perempuan itu adalah Olga Benário. Dia anak
keluarga kelas menengah di Munich, Jerman.
Ayahnya, Leo Benário, seorang pengacara
sekaligus anggota Partai Sosial-Demokrat
Jerman. Ibunya, Eugenie Gutmann, seorang
Yahudi konservatif.
Tetapi Olga memilih keyakinan politik yang
berbeda dengan kedua orang tuanya. Di usia 14
tahun, dia menjadi anggota sayap pemuda
Partai Komunis Jerman (KJVD). Sebagai aktivis
komunis, ia terjun dalam pengorganisiran kelas
pekerja di Berlin-Neukoelln.
Tanggal 12 Februari lalu, bertepatan dengan 106
tahun kelahirannya, saya menonton filmnya:
Olga (2004). Film garapan sutradara Jaime
monjardim itu mengulas perjalanan hidupnya,
semangat dan kesabaran revolusionernya, dan
komitmen perjuangannya.
Di tahun 1926, Olga memimpin ‘aksi bersenjata’
untuk membebaskan kawan seperjuangannya,
Otto Braun, yang sedang diadili dengan tuduhan
menghasut kebencian anti-pemerintah. Waktu
itu Olga membuat ‘aksi spektakuler, dengan
menodongkan pistol ke polisi penjaga, dan
kemudian berhasil membawa pergi Otto Braun.
Karena dicari-cari polisi, Olga dan Otto pergi ke
Moskow. Waktu itu Soviet sedang kekurangan
pangan. Tetapi Olga tetap optimis dengan
sosialisme. “Tetapi di sini ada kebebasan dan
masa depan. Tidak seorang pun akan
kelaparan,” ujarnya kepada Otto Braun.
Ada dialog menarik ketika keduanya sedang
berada di atas kereta menuju Moskow. Otto
mengatakan, “Kau bisa berjuang bersamaku.”
Olga menjawab: “Aku berjuang bersama
revolusi, bukan dengan seorang laki-laki.”
Waktu itu fasisme mulai menguat di Jerman.
Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei
(NZDAP), partai yang didirikan Hitler, sedang
naik daun. Mereka memanfaatkan gelombang
PHK untuk menarik simpati umum. Partai
Komunis Jerman, yang melihat bahaya fasisme
itu, mencoba menyadarkan rakyat dengan
tuntutan: roti dan pekerjaan. Tak jarang, terjadi
perkelahian massal di jalanan antara massa
komunis dengan milisi-milisi NZDAP. Dan, Olga
hadir di tengah-tengah perkelahian itu.
Tahun 1928, ia menjadi delegasi Jerman pada
Kongres Pemuda Komunis Internasional ke-V. Di
sana ia berseru akan bahaya fasisme yang
sedang merekah di berbagai belahan dunia,
terutama di Eropa. “Kita harus bersiap untuk
melawan ini. Aku ingin pelatihan militer
sehingga kami dapat berjuang untuk
kemenangan revolusi. Berjuang untuk dunia
tanpa ketidak-adilan, tanpa kesengsaraan, dan
tanpa perang.”
Di Soviet, Olga mendapat pelatihan militer. Tak
lama kemudian, ia bekerja di Direktorat Intelijen
Tentara Merah. Saat itulah ia mendengar
tentang rencana revolusi di Brazil. Sekelompok
tentara, yang menamai dirinya “Prestes
Column”, berjalan kaki sejauh 25.000 kilometer
untuk menggulingkan rezim korup di Brazil.
Pemimpinnya seorang Kapten bernama Luis
Carlos Prestes.
Olga sangat berminat untuk terlibat dengan misi
revolusi di Brazil. Dan, bak gayung bersambut,
Dmitry Manuilsky, seorang pejabat Komintern
(Komunis Internasional), menugasinya
mengawal Carlos Prestes ke Brazil.
Untuk melakukan perjalanan dari Moskow ke
Rio De Jeneiro, yang tentu saja melintasi
banyak negara, keduanya menyamar sebagai
pengantin baru kaya raya sedang berbulan
madu. Jadilah perjalanan panjang itu sebuah
kisah romantis antara Olga dan Prestes. Tiba di
Brazil, keduanya sudah menjadi sepasang
kekasih. Keduanya juga langsung bergelut
dengan persiapan revolusi. “Mungkin tahun
1935 akan menjadi tahun revolusi di Brazil,”
kata Prestes. Pemberontakan militer meletus
bulan November 1935. Sayang, karena
kurangnya persiapan, pemberontakan itu tidak
berumur lebih 12 jam. Revolusi menemui
kegagalan.
Tetapi, pemberontakan yang gagal itu cukup
menjadi dalih bagi rezim berkuasa, Getulio
Vargas, untuk menghabisi kaum komunis
sebagai jalan pembangunan rezim diktator. Tak
lama kemudian, dinas intelijen Brazil–dengan
dukungan Gestapo–mulai menangkapi aktivis
komunis. Termasuk mengincar Prestes dan
Olga.
Setelah bersembunyi dari rumah ke rumah, Olga
dan Prestes tertangkap. Keduanya dijebloskan di
penjara terpisah. Saat itu, Olga mulai
mengandung anaknya dari Prestes. Bersamaan
dengan itu, agen rahasia Brazil mengetahui
identitas Olga sebagai seorang yahudi sekaligus
aktivis Partai Komunis Jerman.
Pada September 1936, di tengah kehamilannya
yang membesar, Olga dideportasi ke Jerman
sebagai “hadiah” Vargas untuk Hitler. Padahal,
saat itu dunia internasional mengutuk rencana
deportasi itu sebagai kejahatan kemanusiaan.
Cerita sedih pun dimulai. Tak lama kemudian,
Olga melahirkan anaknya di sebuah penjara di
Berlin. Ia memberi nama anaknya: Anita
Leocardia Prestes.
Kesedihan demi kesedihan merenggut ketegaran
Olga. Baru saja menikmati masa bahagia saat
menyusui anaknya, otoritas NAZI sudah
memaksa memisahkan mereka. Anita Leocardia
kemudian diserahkan kepada Ibunda Prestes.
Terguncang karena kehilangan anaknya, Olga
dikirim ke kamp konsentrasi di Lichtenberg. Tak
lama kemudian, dia dipindahkan ke
Ravensbruck. Di dalam kesulitan dirinya, Olga
tetap memberikan perhatian dan solidaritasnya
kepada sesama tawanan. Selain itu, melalui
surat-suratnya, Olga tetap memelihara
komitmennya terhadap cita-cita sosialisme.
“Sekarang aku mau tidur, supaya besok aku
bisa kuat,” tulis Olga melalui surat kepada
suami dan anaknya dari kamp Konsentrasi NAZI
pada malam terakhir hidupnya. “Peluk cium
untuk kalian berdua untuk terakhir kalinya.”
Tahun 1942, Olga bersama komunis lainnya
dibunuh di dalam sebuah kamar gas. Tahun
1945, kediktatoran Vargas tumbang. Tak lama
kemudian, Prestes mendapat pengampunan.

Anda bisa menontonnya di sini:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar