Sabtu, 15 November 2014

Ketika Bung di Ende

Film Soekarno: Indonesia Merdeka karya
Hanung Bramantyo sengaja menghilangkan
salah satu kisah penting dalam perjuangan
Soekarno, yakni saat menjalani pembuangan
politik di Ende. Padahal, perjuangan Soekarno
di Ende punya arti besar bagi bangsa ini.
Nah, selain film Soekarno karya Hanung itu, ada
film Soekarno lain yang juga muncul di tahun
2013 lalu. Judulnya “Ketika Bung Di Ende
(KBDE)”, yang disutradarai oleh Viva Westi. Film
ini khusus menyorot kisah perjuangan Soekarno
saat menjalani pembuangan di Ende.
Sayang, film KBDE tidak setenar film Soekarno-
nya Hanung. Padahal, bagi saya, film ini cukup
kaya dengan dialog-dialog yang mencerdaskan.
Aktor-aktornya juga cukup punya nama: Baim
Wong (Soekarno), Paramitha Rusadi (Inggit),
dan Tio Pakusodewo (Martin Paradja).
Namun, ya, film ini memang kurang menarik
bagi mereka yang kurang suka dengan film-film
serius. Jangankan adegan ‘bercinta’, hal yang
berbau humor saja nyaris tidak ada. Bayangkan,
selama 2 jam lebih rahang anda harus terkatup
karena tidak ada hal yang pantas ditertawakan
di film itu. Yang ada, anda harus pasang telinga
baik-baik untuk menyimak dialog-dialognya
yang mengalir deras. Membosankan kan?
Namun, saya tetap punya beberapa catatan
terhadap film ini. Saya akan melihat film ini dari
beberapa hal: pertama , bagaimana KBDE
memaknai ‘politik pembuangan’–nanti bisa
dibandingkan dengan film Soekarno karya
Hanung; kedua , seberapa besar KBDE didukung
oleh riset sejarah dan pemahaman akan
sejarah; ketiga, pelajaran penting apa yang bisa
dibungkus pulang oleh para penononton usai
nonton film ini.
/1/
Dalam sejarah pergerakan nasional, metode
“pembuangan politik” bukanlah hal yang baru.
Penguasa kolonial kerap menggunakan metode
ini untuk menghentikan langkah pergerakan.
Ada tokoh pergerakan yang dibuang ke luar
negeri, seperti yang menimpa ‘Tiga
Serangkai’ (Douwes Dekker, Tjipto, dan
Suwardi), Tan Malaka, Semaun, dan lain-lain.
Juga tidak sedikit tokoh pergerakan yang
dibuang di tempat-tempat terpencil dan terisolir
di dalam negeri, seperti Banda Neira, Boven
Digul, dan lain-lain.
Esensi dari pembuangan politik adalah
pemisahan antara tokoh terkemuka kaum
pergerakan dengan massa-rakyat atau
pendukungnya. Belanda berharap, dengan
membuang para tokoh-tokoh penggeraknya,
maka pergerakan pun akan menemui ajalnya.
Itupula yang terjadi dengan Soekarno. Ia
dibuang ke tempat sepi dan nun jauh di bagian
timur Hindia-Belanda, yakni Ende. Penduduk
Ende jaman itu–versi Soekarno–hanya 5000-an
jiwa. Jadi, bisa dibayangkan betapa sepinya
daerah itu. Sekalipun seluruh penduduk Ende itu
berhasil diorganisir Soekarno, itu belum
menyamai kemeriahan rapat-rapat umum
(vergadering) PNI di Jawa. Sudah begitu, Ende
sangat sepi dari hingar-bingar pergerakan
nasional yang berpusat di Jawa.
Belanda yakin, dengan membuang Soekarno ke
Ende, pergerakannya di Jawa akan kehilangan
induk. Sementara Soekarno, yang terbiasa
dengan gelora massa, akan menemukan dirinya
terasing. Pelan-pelan ia akan frustasi. Dan
selanjutnya bisa gila atau meninggalkan dunia
politik.
Bagaimana KBDE memaknai pembuangan politik
Soekarno di Ende? Mari kita lihat detail filmnya.
Film ini diawali dengan kedatangan Soekarno
bersama keluarganya di Ende. Kedatangannya
disambut sepi. Sampai-sampai dia bilang,
“Mungkin perjuangan ini akan berakhir,” tutur
Soekarno di permulaan film, untuk
menggambarkan rasa frustasi itu.
Soekarno dan keluarganya ditempatkan di
sebuah rumah kosong di sebuah kampung
bernama Ambubaga. Rumahnya diapit dengan
kebun. Di hari pertama, Inggit sudah mengeluh,
“kenapa kita dikirimnya ke pulau ini?” Soekarno
menjawab, “dulu Belanda berpikir membuang
orang kita keluar. Tapi, di luar atau kemanapun
kita dieksternir, kita masih bisa menyusun
kekuatan untuk melawan mereka semua.
Belanda akhirnya memutuskan untuk
mengasingkan para pemberontak di dalam
negeri saja, dimana mereka langsung dapat
mengawasi kita.”
Kendati dibuang di Ende yang terpencil,
Soekarno dan keluarganya tetap diawasi ketat
oleh Belanda. 7 orang Polisi Belanda bergantian
mengawasi aktivitasnya tiap hari. Belum lagi
polisi yang menyamar sebagai ‘preman’. Tak
hanya itu, Soekarno harus melapor atau
melakukan absensi setiap hari.
Digambarkan Soekarno, pada hari-hari pertama
kedatangannya di Ende, merasa sangat terasing
dan agak frustasi. Istilah anak muda sekarang:
dia (Soekarno) galau. Berhari-hari dia hanya
terduduk melamun saja. Buku-buku politik, yang
seharusnya menjadi temannya dalam
pengasingan, sudah disortir oleh Belanda.
Awalnya, masyarakat Ende pun mengacuhkan
Soekarno. Siapa yang kenal Soekarno? Jaman
itu belum ada TV dan internet! Paling-paling
yang mengenal Soekarno hanya mereka yang
bisa mengakses informasi, seperti koran dan
radio. Golongan yang biasa mengakses
informasi hanyalah golongan elit, yakni orang-
orang Belanda, orang-orang pribumi yang
menjadi amtenar, dan penguasa lokal (Raja dan
keluarganya). Tetapi golongan itu sangat alergi
dengan pergerakan, apalagi orang buangan
politik. Sementara rakyat jelata tidak mengenal
Soekarno dan perjuangannya. Sampai-sampai
Soekarno berujar, “orang di sini yang mengerti
tidak bicara dan yang bicara tidak mengerti.”
Dalam situasi seperti itu, peran keluarga
menjadi penting. Ada dua yang berperan penting
untuk terus menyemangati Soekarno: pertama,
istrinya sendiri, Inggit Garnasih, dan kedua,
mertuanya Ibu Amsi. Kedua orang inilah yang
terus menyemangati Soekarno dengan caranya.
Mulai dari memasak masakan kesukaan
Soekarno hingga dukungan moral.
Tetapi kegalauan Soekarno tak berlangsung
lama. Bukan Soekarno kalau ia menyerah pada
keadaan. Ia mulai berjalan-jalan, ditemani
pembantunya, Riwu, untuk menemui penduduk
Ende. Karena merasa diacuhkan oleh kalangan
elit, Soekarno memilih berkawan dengan rakyat
jelata: nelayan, petani, pedagang, dan orang
biasa. Kawan pertama Soekarno di Ende
bernama Kota, seorang nelayan. Kemudian
Darham, seorang tukang-jahit.
Saya kira, alur utama yang hendak
diketengahkan oleh KBDE adalah bagaimana
menggambarkan Soekarno keluar dari perasaan
dan suasana keterasingannya dan kemudian
menciptakan panggung-panggung pergerakan
yang baru. Atau, istilahnya: membangun “PNI
kecil-kecilan” di Ende.
Sekarang, kita tengok bagaimana Hanung
Bramantyo menggambarkan pembuangan
Soekarno di Bengkulu. Di film Hanung, Soekarno
seolah menikmati pembuangannya di Bengkulu.
Nyaris tidak terlihat ada rintangan politik dan
sosial.
Padahal, kehidupan Soekarno di Bengkulu tak
seenak itu. Pertama, sebagai orang buangan, ia
tetap diawasi ketat oleh pihak kolonial Belanda.
Penduduk setempat juga dilarang mendekati
Soekarno. Kedua , soekarno mengeluh dengan
karakter feodal dan kolot masyarakat bengkulu.
Soekarno berkali-kali bermasalah dengan tokoh
tua dan golongan konservatif di Bengkulu
karena berupaya mendobrak tradisi tua, seperti
tindakannya menyingkirkan tabir/pembatas
antara pria dan wanita di sebuah acara
pertemuan keluarga.
Jadi, di banding Ende, Bengkulu lebih berat bagi
Soekarno. Di Ende, masyarakatnya lebih
terbuka. Di sana, penduduknya memeluk agama
berbeda-beda. Mereka pun berasal dari suku-
suku yang berbeda. Jadinya, mereka tidak alergi
dengan perbedaan. Di Bengkulu, Soekarno
berhadapan dengan masyarakat yang tertutup.
Kondisi social itu membatasi ruang-gerak
Soekarno untuk menjalankan aktivitas politik.
Tetapi lagi-lagi Soekarno tak patah arang.
Seperti di Ende, di Bengkulu Soekarno juga
membentuk kelompok sandiwara. Namanya
Monte Carlo. Di sini Soekarno menghasilkan
beberapa naskah drama, seperti Rainbow
(Poetri Kencana Boelan), Hantoe Goenoeng
Boengkoek, Si Ketjil (Klein Duimpje), dan
Chungking Djakarta.
Soekarno juga mengajar di Sekolah
Muhammadiyah atas permintaaan ketua
Muhammadiyah setempat, Hassan Din–
bapaknya Fatmawati. Tetapi dilarang
membicarakan soal-soal politik kepada
siswanya. Selain itu, untuk merapatkan
hubungannya dengan rakyat, Soekarno menjadi
arsitek gratis bagi penduduk yang membangun
rumah baru. Di Bengkulu, Soekarno juga mulai
menulis dengan nama samaran Guntur atau
Abdurrachman untuk menyebar-luaskan
pandangan politiknya.
Sayang, Hanung kurang membentangkan hal
tersebut. Terlebih lagi, Hanung gagal memaknai
pembuangan politik. Alhasil, Soekarno
digambarkannya seolah-olah manusia bebas di
Bengkulu sana. Saking bebasnya, Soekarno
sibuk pacaran dengan salah seorang muridnya,
Fatmawati.
/2/
Film KBDE didukung oleh sejarawan-sejarawan
yang banyak bergumul dengan kisah perjuangan
Bung Karno, seperti Peter A Rohi, Peter
Kasenda, dan Roso Daras. Saya kira, kontribusi
mereka sangat penting untuk memperkaya riset
sejarah film ini.
Karena itu, film KBDE cukup jeli. Misalnya,
panggilan terhadap Soekarno di film ini adalah
‘Tuan’ dan ‘Bapak’. Bukan panggilan “Bung”
sebagaimana film Soekarno-nya Hanung. Jelas,
jaman itu panggilan ‘Bung’ belum dikenal. Yang
paling banyak adalah panggilan ‘Tuan’ atau
‘Saudara’. Panggilan ‘Bung’ baru dipopulerkan
oleh Bung Karno pasca Proklamasi 17 Agustus
1945.
Film ini juga mengetengahkan kisah Soekarno di
Ende yang jarang diketahui publik atau
dituturkan oleh sejarah resmi. Misalnya,
persahabatan Soekarno dengan pastor-pastor
SVD, terutama Pater Gerardus Huijtink. Di film
KBDE, Persahabatan Soekarno dengan Pater
Huijtink digambarkan cukup dekat. Keduanya
kerap berdiskusi saat Soekarno mengunjungi
perpustakaan SVD. Tak hanya itu, Pater
Huijtink-lah yang memperjuangkan agar
kelompok sandiwara Soekarno bisa berlatih di
gereja. Dia pula yang menjamin agar kelompok
Sandiwara Soekarno boleh menggelar
pertunjukan di depan umum.
Film KBDE juga cukup detail menggambarkan
hal-hal sederhana tetapi penting ketika
Soekarno dibuang di Ende, seperti sebutan
‘keluarga Jawa’–sebutan masyarakat lokal
untuk keluarga soekarno, penggunaan bahasa
dan dialek Sunda di tengah lingkungan keluarga
Soekarno–terutama antara Inggit Garnasih
(Paramita Rusady) dan ibunya, Ibu Samsi
(Niniek L Karim).
Tetapi ada yang cukup kontroversial di film itu.
Yakni, kemunculan tokoh bernama Martin
Paradja. Dalam sejarah, Martin Paradja dikenal
sebagai salah satu tokoh di balik
pemberontakan di atas Kapal Perang D e Zeven
Provincien (kapal Tujuh) tahun 1933. Namun,
dari berbagai versi sejarah, termasuk tulisan
Peter A Rohi sendiri berjudul “77 Tahun
Pemberontakan Di Atas Kapal Zeven Provincien ”,
dikatakan bahwa Martin Paradja gugur dalam
pertempuran di atas kapal itu tanggal 10
Februari 1933. Saat kapal itu dihujani bom oleh
pesawat Dornier.
Di film itu, diceritakan Soekarno bertemu tokoh
Martin Paradja di dekat toko Tionghoa. Awalnya
Martin yang menegur Soekarno. Martin
menceritakan soal pemberontakan Seven
Provincien kepada Soekarno. Lalu, setelah
menuturkan sekilas soal pemberontakan itu,
Martin mengatakan, “ketika bom-bom
dijatuhkan, kapal kami diserang habis-habisan
oleh torpedo, Belanda bodoh itu mengira aku
mati….tapi Tuhan masih melindungi aku, aku
sempat meloncat keluar kapal dan masuk ke
laut.”
Saya kira, ini sebuah kontroversi. Apalagi,
dalam film KBDE, peranan Martin sangat besar.
Dia menyelundupkan surat-surat rahasia
Soekarno, memasok informasi ke Soekarno,
menawarkan pelarian menggunakan kapal
kepada Soekarno, hingga menyediakan kain
panjang untuk keperluan layar panggung
Sandiwara Soekarno. Apakah tokoh Martin
sengaja dihidupkan sekedar untuk mengesankan
adanya aktivitas bawah tanah menyokong
perjuangan Soekarno di Ende? Entahlah.
Memang, di dalam buku otobiografinya Bung
Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Ia
menceritakan ada orang yang menawarinya
‘kabur’ dari Ende. Tapi tidak disebutkan bahwa
orang itu bernama Martin Paradja. Soekarno
hanya bilang ‘seorang stokar berbadan tegar
lagi kekar’.
/3/
Saya kira, ada beberapa pelajaran berharga
yang ditunjukkan di film KBDE ini. Pertama, soal
strategi Soekarno keluar dari kekangan
penguasa kolonial dan kemudian berhasil
membangun panggung gerakan di Ende. Kedua ,
ada banyak pesan atau nilai-nilai, yang
mengalir deras melalui dialog-dialog di film
KBDE, yang berguna bagi bangsa kita saat ini.
Soal strategi, Soekarno cukup brilian. Di tengah
kontrol ketat kolonial, juga kondisi sosial
masyarakat yang agak acuh, Soekarno tetap
berhasil menciptakan sebuah panggung politik.
Saya kira, inilah nilai seorang pejuang politik.
Untuk menciptakan panggung gerakan,
Soekarno menempuh beberapa langkah.
Pertama, ia mengadakan pengajian rutin di
rumahnya. Dengan cara ini, Soekarno berhasil
mengumpulkan orang. Tak hanya itu, cara itu
juga pelan-pelan memangkas jarak yang
diciptakan kolonial untuk memisahkan dirinya
dengan massa di sekitarnya.
Kedua, Soekarno juga menjalin persahabatan
dengan pastor SVD di Ende, yakni P. Johanes
Bouma (Regional atau pemimpin SVD Region
Sunda Kecil) dan P. Gerardus Huijtink (Pastor
Paroki Ende). Dengan begitu, Soekarno terus
mematahkan politik isolasi yang dijalankan oleh
Belanda.
Ketiga, Soekarno membentuk kelompok Tonil
(sandiwara). Para pemainnya adalah rakyat
jelata. Sebagian diantara mereka buta-huruf
dan tidak bisa berbahasa Indonesia dengan
baik. Bayangkan tingkat kesukarannya, tetapi
Soekarno berhasil.
Soekarno menamai kelompok sandiwaranya
“Kelimoetoe Toneel Club”. Kelimutu adalah
nama sebuah gunung di Flores. Ide nama itu
berasal dari Inggit Garnasih. Jumlah
anggotanya 47 orang. Di kelompok sandiwara
itu Soekarno bertindak sebagai pelatih, penulis
naskah drama, penata panggung, pembuat iklan
pementasan, hingga menjual karcis pertunjukan.
Selama pembuangan di Ende, yakni 1934-1938,
Soekarno menghasilkan 13 naskah drama.
Antara lain: Rahasia Kelimutu (dua seri), Tahun
1945, Nggera Ende, Amuk, Rendo, Kutkutbi,
Maha Iblis, Anak Jadah, Dokter Setan, Aero
Dinamik, Jula Gubi, dan Siang Hai Rumbai.
Melalui sandiwara, Soekarno memasokkan
kesadaran-kesadaran perlawanan. Misalnya,
drama “Rahasia Kalimutu” mencoba
mengajarkan rakyat untuk tidak percaya
takhyul. Atau drama berjudul “Dokter Setan”,
yang diadopsinya dari novel Mary Shelley,
Frankenstein , yang mengajarkan bahwa tubuh
Indonesia yang sudah tak bernyawa bisa
dibangkitkan dan dihidupkan kembali. “Itu
perlambang perjuangan. Sesuatu yang sudah
mati bisa hidup kembali. Semangat yang sudah
mati bisa hidup kembali asal ada kerja keras
dan keinginan,” kata Soekarno. Tak hanya itu,
Soekarno juga mengajarkan lagu “Indonesia
Raya” melalui kelompok sandiwara itu.
Film KBDE juga kaya dengan pesan-pesan
ideologis. Misalnya, dialog antara pater Huijtink
dengan Soekarno. Huijtink menanyakan,
“apakah anda membenci Belanda?” Soekarno
menjawab, “masalahnya bukan bangsa Belanda,
melainkan imperialisme.” Ini pandangan
Soekarno sejak awal terjun ke gelanggang
pergerakan. Sebagai seorang nasionalis, ia
menyadari bahwa kolonialisme tidak bisa
dipisahkan dari nafsu imperialisme, yakni
kepentingan negara kapitalis maju untuk
mengeksploitasi ekonomi negara jajahan,
dengan menjadikan negara jajahan sekedar
sebagai penyedia bahan baku bagi industri
negara kapitalis maju, penyedia tenaga kerja
murah, sebagai pasar bagi produk industri
negeri kapitalis maju, dan tempat penanaman
modal asing.
Dari pater Huijtink, Soekarno juga dititipi dua
pertanyaan besar: pertam a, di mana tempat
mamamu yang beragama Hindu itu di dalam
negara yang mayoritas Muslim?; kedua , di
mana tempat orang-orang Flores yang
mayoritas Katolik ini dalam negara yang Marxis
dan mayoritas Muslim itu? Dua pertanyaan
penting itu menjadi bahan renungan Soekarno
dalam mencari konsep atau dasar ideologis
untuk menyatukan Indonesia sebagai sebuah
bangsa sekaligus negara merdeka.
Ende sangat mempengaruhi Soekarno. Terutama
dalam merumuskan dasar negara Indonesia
kelak, yakni Pancasila. Kehidupan rakyat Ende,
yang berasal dari berbagai suku bangsa dan
agama tetapi hidup rukun dan damai, benar-
benar memperkaya imajinasi Soekarno terhadap
Indonesia merdeka kelak. Bahkan, itu menjadi
bahan renungannya setiap hari di bawah sebuah
pohon sukun.
Film ini, yang disponsori oleh Kemendikbud RI,
memperlihatkan betapa kentalnya pengaruh
marxisme terhadap Soekarno. Sesuatu yang
banyak disangkal oleh kaum marhaenis dewasa
ini. Sesuatu yang juga dicap “sesat” di masa
Orba. Hanya saja, dalam sebuah dialog dengan
Asmara Hadi di film ini, Soekarno menegaskan:
“Marxisme saya itu adalah marxisme yang di
dalamnya menggema suara Tuhan.” Apa
maksudnya, entahlah.
Tetapi, Soekarno memang seorang marxis. Ia
terpengaruhi marxisme sejak belia hingga
matinya. Dan Soekarno berkali-kali mengakui,
bahwa teori marxisme merupakan teori yang
paling kompeten untuk memecahkan soal
sejarah, politik, dan sosial-kemasyarakatan. Dan
karena marxisme pula, nasionalisme Soekarno
menentang fasisme dan chauvinisme, tetapi
sangat dekat dengan cita-cita demokrasi dan
keadilan sosial.
/4/
Terus terang, ketika mendengar nama Baim
Wong disebut-sebut akan memerankan
Soekarno, saya agak ragu. Apalagi, seperti
diakuinya sendiri, Baim buta dengan sosok
Soekarno. “Saya salah satu orang yang tidak
tahu soal Soekarno, saya juga buta soal
kemerdekaan,” kata Baim dalam Konferensi Pers
Peluncuran Produksi Film Soekarno di Jakarta,
Kamis (5/9/2013).
Namun, Baim tak menyerah. Ia mulai melahap
buku-buku mengenai Soekarno. Nah, begitu
melihat akting Baim Wong di film KBDE, saya
agak terperangah. Saya langsung lupa dengan
Baim yang banyak bertebaran di sinetron dan
FTV. Tidak sempurna memang. Tapi cukup
memuaskan. Bagi saya, dibandingkan dengan
Ario Bayu, Baim lebih menjiwai Soekarno.
Sementara karakter Inggit yang diperankan oleh
Paramita Rusady kurang menggigit. Di film ini,
Inggit banyak meneteskan air mata. Padahal,
berdasarkan sejumlah literature, Inggit yang
lebih tua 12 tahun dari Soekarno dikenal
sebagai sosok perempuan yang tangguh dan
sangat mendukung perjuangan kemerdekaan. Di
saat-saat Soekarno sedang rapuh, Inggit-lah
yang menguatkannya.
Secara keseluruhan, film ini memang datar.
Tidak ada bumbu percintaan di dalamnya. Tidak
ada konflik keras yang memicu emosi penonton.
Yang banyak kita saksikan hanya pergulatan
batin Soekarno. Jumlah pemainnya juga sedikit.
Jadinya, penonton harus bersabar karena hanya
melihat wajah pemain yang itu-itu saja.
Tetapi kelihatannya kita harus memaklumi hal
itu. Pertama, film yang diproduksi oleh
Kemendikbub ini memang lebih ditujukan untuk
pendidikan dan pengenalan pemikiran Soekarno.
Jadi, semacam film propaganda pemerintah.
Kedua, waktu pembuatannya sangat singkat:
mulai diproduksi tanggal 28 September 2013
dan diluncurkan tanggal 28 november 2013.
Ketiga, anggarannya cukup terbatas. Konon,
KBDE hanya dibiayai Rp 8 miliar. Bandingkan
dengan film karya Hanung yang menghabiskan
Rp 25 miliar.
Saya sendiri mengapresiasi film ini dengan
catatan: kedepan, kalau ada pembuatan film
semacam ini lagi, pengerjaannya harus lebih
serius. Jangan tergesa-gesa bak mengejar
setoran.
Dan, sebagai penutup, mari teriakkan salam
nasional kita: Merdeka!
Kusno, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)
Sekedar informasi: Film “Ketika Bung Di Ende”
bisa ditonton di Youtube. Ini linknya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar