Perjuangan rakyat Malaya (Malaysia)
menghadapi kolonial Inggris juga mengandung
banyak kisah menarik di dalamnya. Kisah-
kisah ini bisa tentang banyak orang, sedikit
orang, atau orang per orang; tentang pribadi-
pribadi yang mengabdikan diri dalam
perjuangan itu. Dengan sumber bacaan yang
terbatas, penulis ingin berbagi sedikit kisah
tentang Siti Norkiah, alias Tun Minah, alias
Makcik Saripoh, wanita mulia yang baru wafat
tanggal 4 Februari 2014 lalu.
Terlahir tahun 1922 sebagai Siti Norkiah binti
Mahmud Baginda, dengan ayah Mahmud
Baginda dan ibu Saleha Binti Mat Yosuf.
Mahmud Baginda, ayah Siti, sempat menjadi
kader Kesatuan Melayu Muda (KMM), organisasi
yang didirikan oleh Ibrahim Yaakob untuk
menentang Kolonial Inggris, sekaligus
memperjuangkan penyatuan Semenanjung
Malaya dengan Republik Indonesia menjadi
Panji Melayu Raya.
Sementara kakeknya bernama Baginda Abdullah
Murah, meninggalkan Sumatera setelah
gagalnya pemberontakan di Indonesia. Dari
referensi yang penulis temui, tidak begitu jelas
apakah yang dimaksud adalah pemberontakan
tahun 1926-1927 yang dipimpin oleh Partai
Komunis Indonesia (PKI), atau ada
pemberontakan lain sebelumnya.
Tapi akar sejarah keluarga seperti disebutkan di
atas telah berpengaruh besar bagi kiprah politik
Siti Norkiah. Sejak kanak-kanak, Siti dan
Zainab Mahmud, adiknya, sering mendapat
tuturan Mahmud Baginda tentang perjuangan
kakeknya; apa dasarnya sang kakek menentang
kolonial Belanda, bagaimana perjuangan itu
dilakukan, dan sebagainya. Ketika tumbuh
remaja ia sudah dilibatkan dalam berbagai
kegiatan KMM dan turut mengatur organisasi di
tingkat lokal. Kegiatan ini terus berlangsung
secara tertutup selama masa pendudukan
Jepang, sampai berakhirnyaPerang Dunia II
tahun 1945.
Latar belakang pergerakan
Jepang yang kalah pergi, Inggris sang
pemenang kembali. Organisasi-organisasi
perjuangan yang berada di tanah Malaya segera
melakukan konsolidasi-konsolidasi dan
penyusunan kembali kekuatan. Spektrum politik
di Malaya menguat pada penolakan kehadiran
kolonial Inggris.
Di bulan Oktober 1945 Parti Kebangsaan Melayu
Melaya (PKMM) didirikan. PKMM dikategorikan
sebagai partai nasionalis kiri yang dekat dengan
Partai Komunis Malaya (PKM). Partai ini
kemudian mulai membentuk sayap-sayap
organisasi seperti AWAS (Angkatan Wanita
Sedar), Angkatan Pemuda Insaf (API), dan
kemudian mendirikan sebuah front persatuan
bernama PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) di
tahun 1948.
Selain itu, Partai Komunis Malaya (PKM)
mengembangkan sayap organisasi sektoral,
yakni Barisan Tani Malaya (BTM) dan Kesatuan
Buruh Melayu. PKM juga menyertakan kekuatan
pasukan yang sebelumnya sempat dibantu oleh
Inggris untuk menghadapi Jepang. Organisasi
tersebut adalah Malayan People Anti Japanese
Army (MPAJA) yang awalnya berbasis di
Singapura.
Ketika AWAS mendirikan cabang di negara
bagian Pahang, Siti Norkiah terpilih sebagai
ketua. Ia merangkap pula sebagai ketua di kota
Benta (kota terbesar di Pahang). Siti semakin
tenggelam dalam perjuangan rakyat negeri
Malaya. Ia hampir selalu hadir dalam rapat-
rapat umum, memberikan pendidikan-pendidikan
politik kepada massa, membangun struktur
organisasi, sampai mengatur jalannya
organisasi.
Gelombang politik menentang kehadiran kembali
kolonial Inggris semakin tinggi, pihak Inggrispun
kelabakan. Mereka menjalankan siasat politik
pecah belah dengan upaya mendirikan negara
boneka, merangkul unsur-unsur di tanah Malaya
yang pro-penjajah.
Di pihak lain, PKMM bersama PKM terus
melakukan aksi-aksi menentang kolonial
Inggris, mulai dari pemogokan buruh sampai
dengan aksi-aksi sabotase. Reaksi pemerintah
kolonial Inggris tidak tanggung-tanggung.
Tanggal 16 Juni 1948 negara ditetapkan dalam
keadaan darurat. Para pengurus PKMM dan
PKM ditangkap, ribuan dari mereka dihukum
mati, sebagian lain dipenjarakan.
Dalam situasi itu Siti Norkiah memilih hidup
berpindah-pindah di basis-basis massa yang
umumnya pendukung AWAS dan API. Ia seperti
ikan di dalam air. PKMM, partai yang selama ini
menjadi alat pengabdiannya, porak-poranda
dengan berlakunya keadaan darurat. Hanya
PKM yang bertahan berkat pengalamannya
mengorganisasikan diri di bawah tanah. Pada
tahun akhir tahun 1948 Siti Norkiah segera
bergabung ke PKM lewat perantara
Kamarulzaman Teh, seorang pimpinan PKM
yang pernah bertugas membantu
pengorganisiran PKMM.
Perjuangan bersenjata
Dalam keterlibatannya di perjuangan bersenjata,
pada awalnya Siti Norkiah bergabung dengan
resimen ke-VI Tentara Pembebasan Nasional
Malaya (TPNM) yang terdiri dari para prajurit
berlatar etnis Tionghoa. Ia kemudian bergabung
dengan regu yang berisi kawan-kawan berlatar
etnis Melayu di bawah pimpinan Musa Ahmad.
Baru pada tahun 1953 mereka bertemu dengan
resimen ke-X (ke sepuluh) yang merupakan
satu-satunya resimen khusus berisi prajurit
berlatar etnis Melayu diantara 12 (dua belas)
resimen TPNM.
Anggota resimen ke-X (ke sepuluh) yang
merupakan satu-satunya resimen khusus berisi
prajurit berlatar etnis Melayu diantara 12 (dua
belas) resimen TPNM.
Di Resimen ke-X inilah Siti Norkiah mendapat
julukan baru, yakni Tun Minah. Tun dalam
bahasa Melayu merupakan gelar, seperti tuanku
atau tunku. Kala itu TPNM telah melakukan
gerak mundur strategis ke bagian utara
semenanjung Malaka, di perbatasan antara
Malaysia dan Thailand.
Tahun 1957 Inggris terpaksa memberi
kemerdekaan kepada Malaya yang diwakili oleh
UMNO, tapi bidang ekonomi dan kemiliteran
tetap dipegang oleh Inggris. Tentang
kemerdekaan ini, seorang mantan gerilyawan,
Samsiah Fakeh, dalam memoarnya
menyebutkan pengakuan seorang veteran
UMNO, Sri Abdul Samad Idris: “Satu sebab lain
yang memaksa Inggris mengalah kepada UMNO
ialah adanya pemberontakan bersenjata
dicetuskan oleh Komunis di hutan-hutan”.
Tidak kurang dari 400.000 tentara
commonwealth (persemakmuran
Inggris)dikerahkan untuk menumpas gerilyawan
PKM. Mereka terdiri dari tentara Inggris, Fiji,
Selandia Baru, Australia, dan Nepal.
Dalam kondisi ini Tun Minah mendapat tugas
mengorganisir rakyat di kampung-kampung di
sekitar perbatasan untuk dijadikan “basis
merah” yang membantu perbekalan maupun
sokongan lainnya kepada TPNM. Konon, Siti
sangat dicintai oleh rakyat yang diorganisirnya
sehingga ia kemudian mendapat panggilan
sayang, Makcik Saripoh. Belasan sampai
puluhan kampung berhasil diorganisir Mak
Saripoh untuk mendukung gerilya, sebelum ia
ditugaskan mengikuti pasukan penggempur
Resimen X pada tahun 1969.
Hari-hari setelahnya Siti Norkiah terlibat dalam
perjalanan berat pasukan tempur ini.
Berulangkali mereka menghadapi serangan
pasukan koalisi persemakmuran, dan juga
menghadapi berbagai kampanye hitam oleh
penguasa yang mengibliskan PKM. Dampak dari
kampanye hitam ini jelas, berkurangnya pasokan
barang, terutama makanan, dari rakyat kepada
gerilyawan. Perjuangan gerilyawan PKM
semakin terdesak, tapi tidak menyerah.
Perdamaian
Setelah bergerilya selama lebih dari empat
puluh tahun, perundingan damai antara
pemerintah Malaysia dengan PKM diadakan.
Perundingan tingkat rendah diadakan sejak
tahun 1988, dan Siti Norkiah turut serta dalam
putaran kedua perundingan tersebut sebagai
rombongan Resimen Kesepuluh. Sampai tanggal
22 Desember 1989 perjanjian damai
ditandatangani di Hotel Lee Gardens, Hadyai,
Thailand.
Siti Norkiah tercatat sebagai satu di antara
1.188 bekas gerilyawan yang meletakkan
senjata. Mereka dibebaskan dari berbagai
tuntutan hukum Malaysia dan diberikan
sejumlah fasilitas (seperti tanah, rumah, dan
modal/uang) oleh pemerintah Malaysia dan
Thailand. Sebagian kecil diantara mereka
kembali ke Malaysia, dan sebagian besar yang
lain memilih menetap di sebuah perkampungan
di perbatasan Thailand-Malaysia yang khusus
dibangun oleh pemerintah kerajaan Thailand.
Siti Norkiah sendiri pilih menetap di Kampung
Perdamaian Sukhirin di Thailand bersama
kawan-kawannya seperti mantan komandannya
Abdullah C.D., Rashid Maidin, serta suaminya,
Abu Samah Mohd. Kassim. Di tahun 1999 Siti
Norkiah bersama Abu Samah Mohd. Kassim
sempat menunaikan ibadah haji. Beberapa kali
juga ia sempat kembali ke tanah Malaysia untuk
bertemu keluarga dan juga bertemu Sultan
Pahang di tahun 2002.
Tanggal 4 Februari 2014,kawan-kawan
seperjuangan di Kampung Perdamaian Sukhirin
menghantar kepergian Siti Norkiah, Srikandi Dari
Pahang, yang telah berusia 92 tahun. Ia
dimakamkan di samping pusara suaminya di
pemakaman Sungai Golok, Thailand.
Dominggus Oktavianus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar